Fundamental Attribution Error (FAE)

Ini mengenai karakter, atau kebiasaan. Oke, keduanya mungkin merupakan hal yang berbeda, pun judul diatas hanya istilah “keren” yang mengungkapkan bahwa ketika menafsirkan perilaku orang lain, orang-orang (bisa jadi termasuk kita) cenderung melebih-lebihkan peran bakat atau –katakanlah- bawaan dari diri seseorang, tanpa memerhatikan peran situasi dan konteks.

Contohnya, dalam sebuah eksperimen sekelompok orang diminta memainkan kuis dimana setiap dua orang dipasangkan secara acak yang kemudian diberi tugas masing-masing sebagai penanya dan yang lainya sebagai kontestan/penjawab. Setelah selesai kedua kelompok diminta menilai tingkat pengetahuan umum pasangan masing-masing. Tentu, para kontestan menilai penanya masing masing sebagai orang yang lebih pintar dari mereka.

Kita dapat melakukan eksperimen serupa dengan banyak cara yang berbeda. Namun pada akhirnya, ini tidak akan menghasilkan perbedaan yang berarti. Maksud saya, dalam konteks ini misalnya, si penanya tentu akan menanyakan hal tertentu yang ia kuasai dan belum tentu diketahui oleh kontestan. Ini sangat subjektif. Menurut saya.

Kasus yang tidak sama persis namun hampir mirip, banyak orang yang percaya terhadap gagasan tentang salah satu faktor paling mendasar dalam menjelaskan kepribadian adalah urutan kelahiran. Mungkin cukup sering kita mendengar anak tertua misalnya, biasanya sok berkuasa dan kolot, sedang anak bungsu lebih kreatif namun pemberontak. Entahlah, dalam hal ini saya netral, silahkan tanyakan kepada saudara saya apakah saya benar begitu (haha)

Bagaimanapun, kita memang mencerminkan urutan kelahiran, tetapi itu hanya terjadi di lingkungan keluarga. Diluar itu, ketika mereka jauh dari keluarga (atau dengan kata lain, dalam konteks yang berbeda), anak tertua mungkin tidak lagi dominan, sementara adik bungsu bisa jadi menjadi orang yang sangat penurut. Hal ini merupakan salah satu contoh tentang FAE.

Menurut Malcom Gladwell dalam buku “Tipping Point” nya, “karakter lebih menyerupai seperangkat kebiasaan, kecenderungan, dan minat, yang masing-masing masih saling bebas meskipun masih dalam satu kumpulan, pada waktu, situasi dan konteks tertentu”

Silahkan tanyakan pada keluarga, sahabat, kenalan, pun kepada pacar/istri saya, bisa jadi ada pertentangan dari apa yang mereka katakan tentang saya. Misal, istri saya mengatakan kepada anda bahwa saya orang yang mudah marah namun suka mendengarkan tiap kali dinasehati. Di lain kesempatan guru saya mengatakan pendapatnya mengenai karakter saya : “mungkin randi ikhsan adalah satu satunya murid saya yang tidak pernah menggunakan kedua telinganya!!!”.

*Hei!!!!!! Ini hanya contoh , bukan berarti saya benar benar seperti itu

Pada faktanya, keduanya benar adalah saya (perumpamaan loh ya). Ada pun yang membuatnya menjadi berbeda adalah konteks yang menyertainya. Karenanya mesti objektif dalam menilai karakter seseorang.

FAE menjadikan dunia tempat yang jauh lebih sederhana dan lebih mudah dipahami. Sering kita jauh lebih paham terhadap petunjuk-petunjuk personal ketimbang petunjuk kontekstual. Lebih lanjut Gladwell mengatakan :

“Mendefinisikan orang melulu bedasarkan kepribadian keluarga memang jauh lebih mudah. Itu semacam jalan pintas. Jika kita terus-menerus meneliti dan memilah setiap penilaian orang-orang disekitar kita, rasanya ini terlalu muluk. Bayangkan bahwa kita harus membuat ribuan pertimbangan hanya untuk memutuskan apakah kita akan menyukai seseorang, apakah kita mencintai seseorang, apakah kita mempercayai seseorang, apakah kita akan menasehati seseorang. Bukankah itu jauh lebih sulit?”

                Ada pendapat dari seorang psikolog yang mengatakan bahwa pikiran manusia ada semacam “katup pereduksi”, yang pada intinya, katup tersubut menciptakan persepsi terhadap sesuatu lantas kemudian menutup katup tersebut untuk memepertahankan persepsinya. Walaupun pada kenyataanya (bisa jadi) ada perubahan yang terjadi terhadap sesuatu yang tersimpan dalam katup tersebut, namun ia tetap akan mempertahankan persepsinya.

Tetap diingat bahwa FAE hanyalah suatu kecenderungan dan tidak semua orang memiliki pola pikir seperti itu.

 

 

IMG065

 

#cobalah terka, apa atau siapa yang menjadi objek foto ini

#abaikan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s