ilustrasi saja

Di suatu samudera, terdapatlah dua pulau yang bertetangga. Sebut saja pulau Aya dan pulau Baya. Di pulau Aya, suku Aya hidup sejahtera. Mereka dikaruniai daratan subur. Pertaniannya menghasilkan aneka sayuran dan buah buahan tropis. Ikan dan sumber daya laut sangat melimpah. Tidak hanya itu, pulau Aya juga memilik panoroma yang indah. Sungai sungai nya jernih. Dataran tinggi, rendah, gunung, lembah dan hutan semuanya seakan terhampar untuk menyejukan mata yang memandangnya.

Suku Aya memiliki peradaban yan cukup maju. Mereka beruntung, pulau yang mereka tempati menghasilkan emas. Dan mereka berkerja keras untuk mendapatkan logam mulia itu. Hampir semua anggota suku memiliki emas dan menyimpanya di rumah rumah mereka.

Selain itu, mereka juga menggunakan emas tersebut sebagai alat transaksi. Sejak Simoeh –sang ketua suku-, mencetak koin emas, maka semua transaksi jual beli yang semula dilakukan dengan barter beralih dengan diukur dengan emas. Berdagang pun lebih mudah dan simpel.

Meski begitu, mereka tidak mendewakan emas sebagai satu satunya percapaian. Kehidupan sosial mereka tampak lebih penting. Ini bisa dilihat dari cara mereka saling tolong menolong. Ketika anggota suku memperbaiki rumah karena tersapu ombak (yang berarti mengancurkan rumah dan menghanyutkan emas emas nya), anggota yang lain dengan suka rela meminjamkan emasnya dan tidak memaksa untuk mengembalikan, apalagi sampai ditambah charge atau biaya tambahan lain.

Mereka juga bergotong royong satu sama lain dengan ikhlas. Meski hidup sederhana, suku Aya diliputi kesetiakawanan yang tinggi. Mengatasi persoalan bersama. Hidup rukun dan damai.

————————————————————————————————————————–

Sementara tetangganya, pulau Baya. Kebanyakan penduduknya bekerja sebagai petani. Mengolah lahan di sawah dan memelihara ternak. Sebagian lagi memiliki keahlian khusus, memeproduksi kerajinan tangan.

Dibanding suku Aya, hidup suku Baya lebih sederhana. Mereka masih mengunakan sistem barter dalam transaksi keseharian. Anggota suku yang menghasilkan padi menukar berasnya dengan kerajinan tangan atau sebaliknya. Boleh dibilang, secara ekonomi kesejahteraan mereka dibawah suku Aya. Mereka memang kebanyakan pekerja kasar. Mereka tidak memiliki pusat kota yang indah dan maju layaknya pulau Aya. Sesekali mereka menjual hasil bumi dan handicraft mereka ke suku Aya. Mereka –apalagi para wanitianya- sangat senang menerima koin emas sebagai jasa dari padi atau kerajinan tangan yag mereka hasilkan.

Meski pun berbeda dalam hal kesejahteraan, ada satu persamaan yang menonjol antara suku Aya dan Baya ; Mereka sama sama hidup rukun, damai dan saing tolong menolong. Mereka sering besilahturahmi dan menjalankan ritual agamanya dengan tenang.

—————————————————————————————————————————

Ya, dan semuanya berubah ketika datang tamu istimewa ke suku Aya. Berpenampilan parlente, dua orang asing turun dari kapal yang berlabuh di pulau Aya. Jono dan Lono, begitu mereka memperkenalkan diri. Kedua turis ini disambut dengan suka cita. Simoeh dan pembantunya sangat terkesan dengan kisah Jono dan Lono yang sudah melanglang buana. Sebagai bukti, kedua orang ini memamerkan koin emas asing yang mereka kumpulkan dari berbagai tempat yag mereka singgahi.

Ada hal yang sangat menarik bagi Simoeh dan punggawanya, yakni kertas yag dinyatakan sebagai uang. Jono lalu menjelaskan bagaimana uang kertas jauh lebih efisien daripada koin emas yang biasanya dipakai suku Aya. Itulah kenapa uang kertas ini sudah dipakai di negara yang jauh lebih maju dibanding tempat mereka tinggal. Jono dan Lono yang mendapat respon positif, semakin bersemangat menjelaskan uang kertas ini pada tuan rumah. Lalu mereka mengenalkan mesin pencetak uang.

“Gambar anda nanti terpampang dalam lembar uang kertas ini”, Jono menunjukuang kertas sambil tersenyum kearah Saka. “Benarkah?” sela Simoeh berbinar. Dalam hati Simoeh girang bukan kepalang. Seumur hidupnya, tidak ada orang yang memberikanya penghormatan seperti yan dilakukan kedua tamunya ini.

Setelah diyakinkan bahwa mata uang kertas akan sangat membuat perekonomian suku Aya lebih efisien, akhirnya sebuah institusi bernama bank pun didirikan. Bank akan menyimpan deposit koin emas mereka, lalu uang deposan ini –hanya sekedar taktik- bisa dipinjamkan kepada suku lain yang diperlukan. Dengan demikian, kesanya semua sumber daya yang ada menjadi optimal karena dialokasikan untuk kegiatan ekonomi produktif.

Suku Aya yang suka membantu berpikir lembaga ini sangat luar biasa karena bisa melanjutkan tradisi mereka membantu orang lain.

Hampir semua anggota suku Aya menyimpan koin emas mereka di Bank Aya (yang dimotori oleh Jono dan Lono). Sejumlah 100.000 lembar uang kertas diserahkan, yang berarti Bank aya menerima 100.000 lembar koin emas. Tak terasa akhirnya penduduk pulau Aya begitu menikmati uang kertas itu. Mereka merasakan dengan mengunakan uang kertas itu, transaksi yang mereka lakukan jauh lebih simpel dan nyaman.

Praktis makin jarang yang memakai koin emas dalam transaksi sehari hari. Hingga uang kertas menjadi mata uang dominan. Kenapa mereka begitu? Karena uang kertas yang memiliki nominal angka sangat memudahkan transaksi, apa yang dijual atau pun yang ingin dibeli untuk kebutuhan sehari hari -baik barang maupun jasa- sekarang telah meiliki nilai dalam bentuk satuan angka, juga sangat mudah untuk menyimpan uang kertas tersebut karna ringan dan bisa dilipat. Selain itu mereka juga dengan mudah menukarkan uang kertas dengan koin emas mereka. Dalam hal ini, Jono dan Lono sangat menjaga kepercayaan. Setiap kali ada yang menukarkan, kali itu juga koin emas diberikan. Demikian seterusnya, sehingga suka Aya tidak perlu khawatir dengan emas miliknya. Toh kalau mereka mau, mereka bisa menukarkanya kapan saja.

————————————————————————————————————————–

Apa yang terjadi di pulau Aya terdengar juga di pulau Baya. Suku Baya memuji dan ingin sekali praktik yang sama diterapkan di pulau mereka. Dari yang semula jual beli dengan barter, akan diubah menjadi sistem canggih yang membantu mereka melakukan transaksi dengan mudah dan efisien.

Diutuslah duta untuk menemui Jono dan Lono. Mereka minta agar sistem yang sama diterapkan juga di pulau Baya. Jono menyanggupi. Dibukalah cabang Bank Aya di pualu Baya dengan Lono sebagai manajernya. Bedanya, dipulau Baya sedikit penduduknya yang memiliki koin emas.

“Anda tak perlu kecil hati, tanpa koin emas pun anda bisa mengeyam kenikmatan sebagaimana tetangga anda di pulau seberang” kata Lono menghibur. Tentu saya suku Baya gembira mendengarnya.

Begitulah. Lono membagikan uang kertas. Ada 100 kepala keluarga dipulau Baya, masing masing diberikan 1000 lembar uang. “Karena anda tidak menyimpan koin emas seperti pulau sebelah, anda bisa bertransaksi dengan uang yang saya berikan. Harap diingat uang yang saya bagikan tidak gratis. Ini adalah pinjaman. Setahun dari sekarang, anda harus mengembalikan uang ini plus 100 lembar uang tambahan”.

“Kenapa harus ada tambahan 100?” kata pemuka suku Baya.

“Betul anda memang meminjam 1000, yang 100 tadi itu adalah untuk membayar jasa yang telah kami sediakan” jawab Lono sambil tersenyum.

Meski ada yang mengganjal, penjelasan Lono cukup untuk mereda naluri kritis suku Baya. Terlihat dari tidak surutnya minat warga Baya mengambil tawaran Lono. Paling tidak, mereka bisa dengan mudahnya bertransaksi.

————————————————————————————————————————

Lama berselang, dari pengamatan Jono, di pulau Aya, rata rata hanya 10% uang kertas yang ditukar ke koin emas di setiap waktu. Sisanya 90%  emas tetap berada di kotak penyimpanan Bank Aya. Mencermati bahwa uang kertas sudah merajai alat tukar Jono pun mengambil langkah strategis.

Jono lalu mencetak uang kertas lebih banyak. Tidak tanggung tanggung hingga 900.000. Dalam kalkulasinya, jumlah ini, ditambah yang telah dibagikan sebelumnya, totalnya ada 1.000.000. Kalau pun ada yang mau menukarkan uang ini dengan koin emas, berdasarkan pengalaman, hanya 10% saja. Jika pun itu benar benar terjadi, ia masih menyimpan 100.000 koin emas yang tidak lain adalah koin yang sudah disetor suku Aya. Setidaknya Jono masih memiliki cadangan koin emas yang cukup.

Lantas ia pinjamkan 900.000 lembar uang kertas yang baru dicetaknya kepada warga Aya yang memerlukan. Kalau tadi di pulau Baya, Lono mengutip tambahan ekstra sebesar 10% dari pokok,  Jono yang merupakan manajer Bank Aya meningkatkan bunga hingga 15% yang artinya, jika sesorang meminjam 1000 lembar uang kertas, diakhir tahun ia mesti mengembalikan 1150 uang kertas, dimana 150 nya adalah charge dari layanan yang ia berikan.

Pelan tapi pasti, setahun pun berlalu. Penduduk pulau Aya merasakan harga harga kebutuhan barang dan jasa naik. Mereka tidak tahu penyebabnya apa. Banyak dari mereka yang meminjam  uang mengalami gagal bayar. Mereka bukan pemalas apalagi pengangur. Tapi meski telah berkerja keras, mereka masih kesulitan meluniasi hutang berikut bunganya.

Dan mereka memang tidak akan pernah bisa melunasi hutangnya!!!!!!.

Lihatlah, uang yang dipinjamkan  900.000 bila ditambah bunga 15%, berarti 135.000 atau jumlah total mencapai 1.135.000. Padahal, jumlah uang yang dicetak dan diedarkan hanya 1.000.000 (100.000 diberikan sebagai ganti 100.000 keping koin emas, ditambah 900.00 yang dicetak Jono).

Dan begitulah, sistem yang diperkenalkan Jono dan Lono mengubah watak bisnis kekeluargaan menjadi bisnis yang individual kompetitif. Kehidupan sosial mereka yang harmonis, penuh toleransi dan tolong menolong perlahan luntur. Masing masing kepala –apalagi yang berhutang- harus berkerja keras dan hanya fokus untuk mengejar uang demi melunasi hutangnya. Prinsip saling membantu berubah menjadi time is money. Masing masing mulai terbebani untuk berusaha keras demi kepentingan masing masing.

Begitu pula yang terjadi di pulau Baya. Awalnya mereka tidak menyadari. Namun, lambat laun mereka merasakan perubahan. Kebutuhan pokok yan duluya cukup ditukar dengan barang kerajinan atau sebaliknya, kini mulai bermasalah. Mereka tidak tahu kenapa tanpa terasa, dengan berlalunya waktu harga harga terus merambat naik. Padahal mereka telah membanting tulang dan berkerja lebih keras. Kerja sama antar warga yang semula menjadi tradisi lama kelamaan mulai luntur. Mereka menjadi egois, diburu kebutuhan masing masing. Toh di akhir tahun tidak semua bisa membayar kewajibanya. Seperti dialami suku Aya, suku Baya pun banyak yang default alias gagal bayar.

Oleh Jono dan Lono,  kepada para penunggak sebagian disuruh berkerja padanya sebagian ada yag dipaksa membayar. Caranya, dengan menyita harta benda mereka. Rumah, sawah, ternak dan maupun harta benda lainya pun segera berpindah tuan. Sementara sebagian lain yang memiliki hubungan baik dengan Jono dan Lono diberi kesempatan untuk memperpanjang masa angsuran. Kebetulan pemimpin suku Baya yang bernama Bambang, yang juga menunggak hutang, memiliki hubungan dengan Lono, sehingga atas nama “kebaikan”, Lono bukan hanya memberikan tambahan waktu menganggsur hutang, tapi juga memberikan tambahan hutang baru dengan dalih agar Bambang memiliki modal dan bisa melancarkan kegiata produktifnya. Namun alih alih bisa bayar di periode berikutnya, Bambang kembali tak bisa melunasi hutang nya.

Malu tak bisa melunasi hutang nya, Bambang menarik diri dan menghindar bertemu dengan Lono. Ia mulai kehilangan kepercayaan diri. Kewibawaanya sebagai pemimpin suku Baya berbalik ke titik nadir. Sementara Lono yan semula berlagak membantu, kini tinggal melaukan eksekusi. Ia pun semakin kaya dan berlagak sebagai Tuan Besar, dan tertawa wkwwkwkwkwkwk.😀

—————————————————————————————————————————————

Beberapa tahun berselang, Jono dan Lono yag semula datang  ke pulau Aya dan Baya dengan modal mesin pencetak uang,  kini telah memiliki hampir semua kekayan di dua pulau tersebut. Mereka menguasai ekonomi dan properti. Lambat laun, dengan uang, mereka mengusai politik di kedua tempat tersebut.

Sementara masyarakat di ke dua pulau tersebut tingalah sebagai pekerja kasar. Kemiskinan tiba tiba menjadi masalah yang terus menyebar. Mereka berkerja keras untuk hasil yang sedikit. Mereka kehilangan waktu untuk saudara dan tetangga. Mereka semakin jarang melakukan upacara keagamaan karna terlalu sibuk berkerja.

Kejahatan pun merebak, karna tak bisa bayar hutang, mereka mengorbankan anak bahkan istri sendiri untuk diperbudak. Pencurian dan perampokan menjadi sering terjadi. Prostitusi yang semula tabu, seperti menjadi budaya baru bagi mereka. Budaya lokal lambat laut punah. Kemudian semua budaya yag datang dari Jono dan Lono dianggap superior.

Jono dan Lono telah menguasai semua, tak ada yag tersisa : ekonomi, budaya, hingga politik telah mereka kuasai. Bahkan saat mereka bertindak jahat termasuk melaukan tindak asusila di tempat itu pun, keadilan bisa mereka beli dengan uang.

2 responses to “ilustrasi saja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s