bening

Merujuk ukuran kebaikan pada arahan Allah & jalan hidup RasulNya adalah keinsyafan mulia yang kadang sangat menyesakkan dada

Seperti yang dilakukan ‘Umar ibn Al Khaththab ketika bergunung-gunung harta Kemaharajaan Persia kilau-kemilau memenuhi Madinah.

Semua mengucap selamat & doa-doa indah atas keberhasilannya menggelorakan jihad, meninggikan kalimat Allah, memakmurkan muslimin.

Tapi di pojok sana, sang Khalifah menangis tersedu-sedu. Di hamparan intan, emas, & segala benda mewah, airmatanya tumpah.

“Mengapa kau menangis hai Amirul Mukminin?”, tanya seorang sahabat, “Bukankah Allah telah bukakan keberkahan langit & bumi bagi ummat ini melalui tanganmu?”

Maka ‘Umar mendongak dengan mata memerah & pipi basah, “Dusta! Demi Allah ini dusta!! Demi Allah bukan begitu! Sebab andai semua ini kebaikan”, ujarnya menunjuk tumpukan berlian & mas-kencana, “Mengapa ia tak terjadi di zaman Abu Bakr; juga tidak di zaman Rasulullah? Maka demi Allah, ini semua pasti bukan puncak kebaikan!”

Sungguh pandangan jernih, harta berlimpah itu bukan kebaikan, SEBAB jika ia KEBAIKAN; harusnya terjadi pada ORANG TERBAIK.

Sedang sabda Nabi adalah benar; “Sebaik-baik kurun adalah masaku, kemudian yang berikutnya, kemudian yang mengikutinya.”

Maka adakah hari ini kita menimbang kebaikan yang melimpahi dengan ukuran orang-orang terbaik, soal rizqi, ibadah, dakwah?

Indah direnungkan sejenak,.. keluarga, pekerjaan, jabatan, kekayaan, kemasyhuran kita, apakah ia baik di sisi para teladan?

Begitulah; kebaikan harus kita tanyakan pada para insan terbaik, seperti Abu Bakr yang menangis kala sahabat lain gembira.

Surat An Nashr; dibaca oleh umumnya sahabat sebagai tibanya kemenangan, jayanya agama Allah, gempitanya insan berislam.

Tapi bagi Abu Bakr ia duka mendalam, selesainya tugas Rasul, wafatnya beliau, terputusnya wahyu, & dimulainya kemunduran.

Maka selalu ada pesan tersembunyi yang mengoyak batin di tiap hal yang pada zhahirnya dipandang manusia sebagai kejayaan.

Bahkan bagi sang Nabi, seperti terpampang dalam ayat yang baru saja kita sebut;

 “Jika datang pertolongan Allah & kemenangan dan kamu lihat manusia berbondong-bondong memasuki agama Allah..”

Betapa manisnya, betapa indahnya, betapa mulianya.. telah tiba waktu memetik buah dari perjuangan yang getir & pilu, dari dakwah beliau yang berkuah keringat, darah, air mata..

Tapi kalimat berikutnya menyentak kesadaran, halus & tajam;

 “Maka bertasbihlah memuji Rabbmu & mohonlah ampun kepadaNya..”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s