Information filter

“Informasi diolah di dalam pikiran dengan wujud yang sudah tidak utuh lagi. Tidak seperti semula”

Karena pikiran manusia, secara otomatis, memiliki tiga filter informasi, yakni :

1. DELESI.

Menghapus informasi yang tidak relevan.

Contoh: Ada sms seperti ini:

“.:Jarkom 3-ZzzUPER!:.
Entah ini kabar sedih atau gembira…
Ternyata…. kuliah ABK BATAL lagi! Zzz.
Ganti besok jm8, tempat sama.
E, besok zangan lupa bawa uang 40rb buat
bayar iuran kaoz kelaz ke Sandi!
Nih murid teladan yg udah bayar -> doni, nuril, ando, fery, ferdi.
.:Zalam Zzzuper zelalu!:.”

Nah! Informasi apa yang tertangkap??

Biasanya, kebanyakan kita secara otomatis hanya akan membaca: “Kuliah ABK batal, diganti besok jam 8, tempat sama. Besok bawa uang kaos 40rb”. Karena itulah inti informasi yang penting bagi semua murid secara umum. Siapa yang peduli dengan “doni, nuril, ando, fery, ferdi” yang jadi ‘murid teladan yang sudah bayar uang kaos kelas’?

Mungkin tidak ada. Karena informasi itu tidak relevan bagi siapapun. (kecuali bagi bendahara yang memang punya kepentingan). Lebih parah lagi, bagi murid yang saat itu sedang ada urusan penting–dan cuma fokus berharap kuliah batal–mungkin dia hanya akan membaca: “Kuliah ABK BATAL!” Mau diganti jam berapapun, atau bahkan tidak diganti, yang penting kuliah hari itu batal. Informasi yang lain menjadi tidak relevan, dan di-delete.

Hal POSITIF dari delesi adalah: otak tidak kebanjiran informasi. Karna terkadang kita tidak memerlukan informasi yang tidak kita butuhkan

Hal NEGATIF nya: bisa jadi informasi yang tidak relevan sekarang itu menjadi relevan—bahkan penting—di masa datang. Sehingga, kadang kita merasa, “Lho? Itu sudah pernah diberitahu ya?”

Salah satu contoh Delesi yang lain adalah ketika saya menyunting tulisan ini dengan menghapus bagian bagian/informasi yang menurut otak saya tidak relevan bagi saya -dan pembaca- untuk dikonsumsi.

2. GENERALISASI.

Menganggap lawan bicara kita sudah tahu-sama-tahu. Atau, menyamaratakan respon pada hal-hal yang kita anggap mirip (padahal, mirip belum tentu persis sama).

Contoh:
Semua anak laki-laki pasti suka sepak bola
Semua pejabat korupsi
Semua polantas suka mencari cari alasan untuk menilang

Saat kita menemukan hal yang tidak sesuai dengan kata-kata di atas, sering kita maknai sebagai bentuk penyimpangan. Padahal jelas, tidak semua seperti itu, bahkan bisa saja justru berbanding terbalik 180 derajat.

3. DISTORSI.

Memaknai dengan berbeda-beda. Atau menghubung-hubungkan sesuatu yang sebenarnya tidak berhubungan, tidak logis.

Contoh:

A berkata kepada B: “Kamu nggak balas-balas smsku. Kamu nggak cinta lagi sama aku!”

Padahal bisa jadi belum tentu seperti itu. Mungkin si A memaknai cinta dengan kata-kata, sehingga ingin sering mendapat sms atau telpon. Tapi si B, bisa jadi memaknai cinta dengan membuktikan ke perbuatan, sehingga tidak sms pun tidak masalah.

Distorsi pemaknaan. Sekaligus hubungan yang tidak logis. Apa cinta hanya diukur dengan jumlah pulsa di henpon??

Masih dalam bahasan distorsi, dalam suatu terapi yang bernama Cognitive Behavior Therapy hubungan seperti itu diberi istilah mata rantai ABC. Yaitu ;

● Activating event. Kejadian yang mengaktivasi (memicu) timbulnya respon. Contoh: Teman kita terlambat datang ke rapat.

● Belief. Logika yg diyakini, seperti: “Jika A, maka pasti B”; atau “A sama dengan B”. Contoh: keyakinan “Terlambat datang rapat sama dengan tidak komitmen.”

● Consequence . Konsekuensi atau respon yang diberikan. Contoh: Marah.

Coba perhatikan!

Memangnya apa hubungannya terlambat dengan tidak komitmen?!

In a relationship? atau complicated?

Apakah mungkin orang terlambat itu tetap komitmen?

Apakah mungkin ada orang yang selalu tepat waktu namun dia tidak komitmen?

……….. Tentu saja, sangat mungkin sekali!!!!

Nah, sekarang kita tahu bahwa bisa jadi ada mata rantai yang kurang rasional di sini. Tinggal kita belajar untuk memutusnya dan menyambungnya lagi dengan logika.

#sumber : -sekolah strategi Indonesia-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s